Tarian Rapai Geleng Aceh - Aceh loen sayang

Breaking

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sunday, June 24, 2018

Tarian Rapai Geleng Aceh


Aceh yang dikenal dengan budaya dan tradisi yang tidak pernah hilang  salah satunya adalah tarian rapai gelang yang berasal dari pantai barat selatan tepatnya di salah satu kabupaten  kota yaitu Aceh barat daya tepat nya dikecamatan manggeng. yang sekarang masuk kawasan Kabupaten Aceh Barat Daya. Rapa'i Geleng dikembangkan oleh seseorang yang bernama Alm johor pada tahun 1965. Setelah itu dilanjutkan oleh Nasrudin (Ceh yong). Nasrudin  adalah salah satu anak didik dari Alm johor
 Saat itu tarian ini dibawakan pada saat mengisi kekosongan waktu santri yang jenuh usai belajar. Lalu, tarian ini dijadikan sarana dakwah karena dapat membuat daya tarik penonton yang sangat banyak.
Permainan Rapa'i Geleng juga disertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam hal kerjasama, kebersamaan, dan penuh kekompakan dalam lingkungan masyarakat. Tarian ini sendiri mengekspresikan dinamisasi masyarakat. syair yang dinyanyikan oleh seorang vokalis atau disebut dengan cahi, kostum dan gerakan dasar dari unsure tari Meuseukat. Jenis tarian ini sendiri dimaksudkan untuk laki-laki, dan biasanya dalam tari rapai geleng ini dilakukan oleh 12 laki-laki yang telah terlatih.
Tarian ini sendiri tentu saja memiliki beberapa fungsi seperti pada halnya tarian-tarian lain yang ada pada daerah ini sendiri, tentu saja ada beberapa keistimewaan pada tarian ini sendiri. Fungsi dari tarian ini  adalah untuk syair agama, dimana diharapkan dapat menanamkan nilai moral kepada masyarakat. Tentu saja dalam hal ini adalah moral yang baik dan yang bisa dicontoh oleh masyarakat dan dapat diikuti oleh semua orang dan juga siapa saja yang ada pada daerah tersebut. tarian ini sendiri pun biasanya dilakukan pada saat ada santri yang merasa jenuh pada saat mereka melakukan pelajaran sendiri.
 kesenian Rapai geleng adalah sebagai sebuah bentuk pemersatu antar kelompok masyarakat baik dalam tatanan lingkungan sosial seperti gampong-gampong maupun mukim, hal ini Rapai geleng disajikan dalam bentuk perlombaan (tunang) dengan teknik penampilan berbalas pantun melalui isi pesan dan makna teks, sehingga denga adanya pertandingan Rapai tunang ini masyarakat antar kampong saling berdatangan dan bertemu yang kemudian melakukan permainan kesenian rapai geleng ini sacara bergantian yang disaksikan oleh masyarakat dari daerah masing-masing sebagai pendukungnya hal ini menunjukan pengintegritas masyarakat Aceh melalui kesenian rapai geleng yang menonjolkan kekhasan budayanya.
 pada saat ini perkembangan Rapai geleng tidak saja dimainkan oleh kelompok sosial kemsyarakatan yang ada di gampong-gampong akan tetapi seni Rapai geleng saat ini dimainkan oleh setiap kalangan   baik dikalangan pelajar (usia SD, SMP, SMA), mahasiswa. Tidak jarang kita lihat banyakk tar rapai geleng ini diadakan di ajang pertandingan.
Salah satu nya dapat kita lihat bagi mahsiswa yang sedang menempuh pendidikan dibanda Aceh banyak bergabung dibidang seni khusunya para mahasiwa yang ikut berpartispasi dalam melestariakan budaya aceh. Dan dapat kita lihat juga disetiap ”sanggar’’ tempat berkumpulnya dibidang seni. sanggar sanggar banyak yang telah memproduksi tarian rapai geleng ini baik itu dalam kawasan aceh maupun manca negara.
Riski Amanda (20) adalah salah satu penari dari sanggar rincong meubisa yang berasal dari ABDYA. Dia mengatakan sangat bahagia karna salah satu tarian rapai geleng yang berasal dari abdya kini telah tersebar kebeberapa daerah baik itu di Aceh maupun diluar aceh. Dan tarian ini juga sering dipergunakan untuk acara pertandingan dan juga diacara penyambutan.
Gerakan-gerakan yang terdapat pada kesenian Rapai geleng tersebut mengandung nilai-nilai ajaran agama Islam, yang menjadi dasar bagi pola hidup masyarakat Aceh khususnya kota Banda Aceh yang pluralisme dimana masyarakat kota Banda Aceh yang terdiri dari berbagai multi etnis dan agama sebagai sebuah masyarakat tentunya harus bergandengan tangan dalam membangun, apalagi setelah peristiwa gempa dan Tsunami semua kalangan tanpa memandang suku dan ras membangun kembali kota Banda Aceh yang porak poranda akibat bencana tersebut,
hal ini dilambangkan dengan gerak saleum yang bergandengan tangan dan bersalaman, dan filosofi ini semata-mata untuk menjalin nilai-nilai ukhuwah yang diperintahkan oleh Allah Subhana Wataala. Gerak-gerak Rapai geleng didasari oleh pengaruh gerak tari Saman  yang mengandung faham-faham sufisme khususnya tarikat Shamaniah yang berkembang di Aceh dan Dunia Islam secara lebih universal. Semoga kedepannya aceh akan selalu dikenang dengan adat dan kebudayaan oleh wisata lokal maupun manca negara
             


No comments:

Post a Comment

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here